Saturday, September 4, 2010

Ke Shenzhen, Menawarlah dengan Kejam

"Ingat ya, tawarlah minimal 50 persen," begitu nasihat Tina Rao (24), pemandu dari agen perjalanan setempat sesaat sebelum kami memasuki pertokoan Hua Qiang Bei di pusat Kota Shenzhen, China, akhir pekan lalu. Hua Qiang Bei adalah pusat perdagangan elektronik terbesar di Shenzhen. Anda bisa menemukan beragam alat elektronik yang Anda inginkan. Tapi, hati-hati banyak barang tiruan.

Sore itu kami memasuki pusat penjualan telepon seluler di lantai dasar. Susananya mirip di Roxi, Jakarta Barat. Sebuah hall besar dengan jejeran gerai ponsel yang tertata teratur menyisakan gang-gang kecil buat pengunjung. Para pedagang di tempat itu aktif menawarkan dagangan mereka. Aneka jenis ponsel ada di sini.

Saya berhenti di salah satu gerai saat seorang pedagang menyodorkan sebuah Iphone. Masih mulus, terbungkus plastik. Ada logo buah apel coak, simbol produk buatan apple, vendor elektronik asal Amerika. Di bagian bawah, di sisi belakang Iphone itu tertulis "Designed by Apple in California Assembled in China" lengkap dengan nomor kode produksinya.

"Ini asli atau tiruan," tanya saya.
"Tiruan," jawab pedagang perempuan itu jujur dengan suara datar tanpa ekspresi.

Iphone aspal itu dibandrol seharga 700 reminbi (RMB) atau sekitar Rp 945 ribu. Kalau mengikuti nasihat Tina, Iphone tiruan itu bisa didapat di kisaran harga Rp 450 ribu. Di Jakarta, Iphone asli harganya Rp 6,3 juta.

Di gerai lain, seorang teman tertarik dengan sebuah bolpoin yang bisa merekam video dan berfungsi sebagai USB dengan kapasitas 16 gigabyte. Pedagang di tempat itu membuka penawaran di angka 350 RMB. Teman tadi menawar 100 RMB. Karena keterbatasan komunikasi tawar menawar dilakukan dengan menggunakan kalkulator.

Cukup alot proses tawar menawar berlangsung hingga akhirnya pedagang bersedia melepas barangnya di harga 120 RMB atau sekitar Rp 162 ribu. Di sentra perdagangan elektronik di Glodok, Jakarta Barat, ia mengaku menemukan barang barang yang sama dibandrol Rp 800 ribu

Kota Industri

Inilah Shenzhen. Jaraknya hanya 60 kilometer dari Hongkong atau sekitar satu jam perjalanan darat dari Hongkong. Kota ini kerap disebut sebagai sebuah keajaiban baru China dilihat dari sejarahnya sepanjang 20 tahun terakhir.

Tahun 1970 Shenzhen yang masuk dalam teritorial Provinsi Guangdong hanyalah sebuah desa nelayan miskin di pesisir laut China Selatan. Populasi desa itu sekitar 25 ribu jiwa. Segalanya berubah saat Deng Xiao Ping, pempin baru China di akhir tahun 1970 menetapkan Shenzhen sebagai zona ekonomi khusus.

Pemerintah China membuka pintu, membiarkan udara kapitalisme merasuki negeri itu. Karpet merah digelar untuk para investor asing. Shenzhen berkembang menjadi kota industri. Populasi penduduknya tumbuh cepat menjadi sekitar 8,5 juta jiwa saat ini.

Sebagai kota industri Shenzhen ramai oleh pusat perbelanjaan. Shopaholic yang mengunjungi Shenzhen tidak akan melewati SEG Plaza di Shennon Road di Distrik Futian, Xiwu Department Store, Jianingna Plaza, Wanjia Department Store, atau kawasan perbelanjaan Dongmen yang selalu ramai. Bagi penggemar elektronik silakan mengunjungi sentra perdagangan elektronik dan pakaian di Huaqiang North Road. Bagi kaum wanita, jangan lupa ke Xindahao Dressing Town di Huaqingbei.

Bila Anda menemukan barang-barang bermerk internasional dengan harga murah jangan cepat terkesima dan percaya begitu saja dengan harganya. Kota ini dikenal sebagai pusat pembuatan barang palsu. Kalau tidak paham, sulit membedakan mana bolpoin Mont Blanc asli dan palsu. Begitu pula sulit membedakan mana Rolex asli atau palsu.

Tidak hanya barang-barang bermerek terkenal yang dibandrol dengan harga sekian kali lipat, barang-barang "biasa" pun dijual dengan harga tinggi, terutama di tempat-tempat yang ramai dikunjungi wisatawan. 

Oleh karena itu, untuk menimalisir tertipu harga menawarlah minimal setengah harga seperti nasihat Tina di atas. Juga tidak perlu sungkan untuk menawar lebih dari 50 persen. Jangan takut untuk dihardik, atau mendapatkan si pedagang marah-marah. Kalau si pedagang mulai marah itu pertanda barang akan dilepas.

Kurang Kejam

Di sebuah toko souvenir saya menemukan pedagang yang marah-marah. Saya bermaksud membeli hiasan kulkas bermagnet di toko itu. Si ibu pedagang dengan senyumnya yang ramah mengatakan souvenir itu harganya 35 RMB. Hmm...berpikir sejenak, saya menawar asal-asalan 8 RMB. Ibu pedagang menolak. Ia menurunkan harga jadi 30 RMB. Saya bergeming.

Ia kembali menurunkan harga jadi 25 RMB. Giliran saya menaikkan harga menjadi 10 RMB. Ibu itu menggeleng sambil tetap tersenyum. Saya pun melangkahkan kaki ke pintu keluar. Ibu itu memanggil dan melepas barangnya dengan harga 10 RMB.

Saat hendak membungkus barang, teman saya masuk ke dalam toko dan berbisik di toko sebelah barang yang sama dijual 7 RMB. Saya protes pada pedagang itu. Ia lalu menjelaskan barang seharga 7 RMB kualitasnya berbeda dengan 10 RMB. Ia pun mengeluarkan hiasan serupa dengan kualitas yang lebih buruk. Kata teman saya, barang yang sama.

Saya beranjak pergi dan ibu pedagang itu berceloteh panjang dalam bahasa yang tidak saya pahami. Tak ada lagi senyum di wajahnya. Ia lalu beteriak memanggil saya dengan nada tinggi. Saya sangat khawatir ia marah besar pada saya karena membatalkan pembelian. Ternyata, ia melepas souvenir itu jadi 7 RMB.

Ia memasukkan barang-barang yang saya beli ke dalam kantung plastik dengan cara yang tidak simpatik dan berusaha mencampurkannya dengan barang yang kualitasnya lebih buruk, untung saya tahu. Saya tersenyum penuh kemenangan sambil berkata dalam hati betapa beruntungnya saya, dapat harga 7 RMB dari harga 35 RMB.
Di luar toko saya berjumpa teman lain. Dan, saya bukan orang yang paling beruntung. Teman itu mendapat barang yang sama dengan harga 6 RMB. Saya tersenyum kecut. "Di Shenzhen menawarlah dengan kejam," kata teman saya penuh kemenangan.


source: http://travel.kompas.com/read/2010/08/18/10171071/Ke.Shenzhen..Menawarlah.dengan.Kejam-14