Wednesday, September 8, 2010

Dari Baju Dinas sampai Sewa Bayi

Kampung Lio, Depok, Jawa Barat sekitar pukul 07.00, tampak muram. Keluar dari kamar petak sewaan, Talem (46) melintasi deretan lapak pemulung, tumpukan sampah, dan got berbau menyengat. Sambil menenteng kantong plastik berisi ”baju dinas”, ia berangkat.

Di jalan raya dekat rel kereta Depok-Bogor, perempuan gempal berkulit legam itu naik bus. Membayar tarif penuh, dia tak berbeda dengan penumpang lain.

Turun di Mampang, Jakarta Selatan, Talem lantas menyelinap ke sebuah gang sepi. Dia mengeluarkan baju dinas dari kantong plastik dan memakainya.

Baju dinas itu berupa kebaya lengan panjang yang robek sana-sini serta sarung merah lusuh. Kepalanya dikerudungi dengan kain kusam. Dengan penampilan memelas, dia meminta-minta dari rumah ke rumah di Mampang.

”Kalau pakai baju biasa, takutnya orang-orang enggak mau ngasih,” katanya menjelaskan soal baju dinas, Senin.

Talem, warga Jumbleng, Losarang, Indramayu, Jawa Barat, mengemis di Jakarta bersama suaminya, Marta (50), sejak dua tahun terakhir. Jalan itu ditempuh setelah Talem menjalani operasi rahim dan terbelit utang jutaan rupiah.

Pengemis lain, Atika (35), warga Citayeum, Bogor, Jawa Barat, mengerahkan empat anak berusia 5-12 tahun untuk memancing iba di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

Saat buka, tarawih, hingga sahur, empat anggota ”pasukan” itu mengacungkan tangan sambil memelas. Perempuan itu mengawasi sambil berjualan kantong dan air mineral serta menggendong anak bungsunya yang berusia 1,5 tahun.

Atika dan suaminya mengemis sejak tiga tahun lalu. Sebelumnya, mereka menggelandang karena tak mampu membayar kontrakan. Suaminya terkena PHK dari pekerjaannya sebagai kernet. ”Tiap malam selama Ramadhan, kami menginap di Istiqlal. Pagi pulang karena anak-anak sekolah,” katanya.

Mudahnya anak-anak memancing simpati menumbuhkan usaha sewa bayi di sekitar permukiman pengemis. Contohnya, di Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur. ”Ada bayi disewakan di sekitar sini, Rp 30.000 sehari,” kata Sapturi (27), pengemis.

Baju dinas, memamerkan cacat tubuh, dan menyodorkan anak-anak kecil adalah sebagian trik mengemis di Jakarta. Tujuannya, memancing iba sehingga orang mau membagikan recehan.

Penghasilan

Dengan mengandalkan beberapa trik itu, mereka berpenghasilan lumayan. Talem dan Marta yang mengemis bergantian, misalnya, dapat mengantongi Rp 50.000 per hari. Setiap bulan mereka menabung Rp 1 juta-Rp 1,5 juta.

Jumlah itu dua kali lebih besar daripada pendapatan buruh tani. Biasanya, setiap musim tanam dan panen padi, Talem pulang ke desanya menjadi buruh tani. Saat Ramadhan, dia balik ke Jakarta.

Metode Atika juga cukup jitu. Masing-masing dari empat anaknya meraup Rp 30.000 per malam. Ditambah hasil jualan, keluarga itu mengantongi Rp 150.000 semalam atau Rp 4,5 juta per bulan.

Dengan perolehan seperti itu, wajar jika ribuan pengemis menyerbu Jakarta saat Ramadhan. Mereka itu disebut pengemis musiman. Sebagian memenuhi Masjid Istiqlal, mejeng di perempatan jalan, atau pergi ke rumah-rumah. Untuk menghindari penertiban, mereka berkoordinasi dengan telepon seluler yang dibuka diam-diam.

Satpol PP DKI Jakarta punya hitungan menarik soal penghasilan pengemis. Dari Januari hingga Agustus 2010, satpol PP menangkap 2.200 pengemis. Tahun 2009 ada sekitar 11.000 pengemis yang tertangkap.

Menurut Kepala Satpol PP DKI Jakarta Effendi Anas, penghasilan pengemis di Jakarta Rp 30.000-Rp 280.000 per hari. Artinya, pendapatannya antara Rp 900.000 dan Rp 8,4 juta per bulan. Bukankah itu setara dengan gaji karyawan perkantoran?

Jika dihitung total, hasilnya mencengangkan. Apabila setiap pengemis berpendapatan Rp 900.000 per bulan, total penghasilan 11.000 pengemis sekitar Rp 10,2 miliar per bulan. Jika ”buntung”, mereka hanya dapat Rp 30.000 sehari.

Saat beruntung, pengemis mendapat Rp 280.000 sehari (Rp 8,4 juta per bulan) sehingga total pendapatan 11.000 pengemis mencapai Rp 95,2 miliar per bulan! Bandingkan dengan perolehan Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (Bazis) DKI Jakarta yang sekitar Rp 3,6 miliar per bulan.

Berkelompok

Pengemis di Jakarta juga punya kiat mengorganisasi dan mengamankan diri dengan hidup berkelompok. Di Jakarta ada banyak kelompok pengemis, terutama berdasarkan pada daerah asal.

Kampung Lio di Depok, misalnya, dihuni pengemis asal Indramayu. Pengemis di Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur, berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Bongkaran di Tanah Abang menjadi markas pengemis Jombang, Jawa Timur.

Di situ mereka membentuk sistem ekonomi dan sosial yang saling menguntungkan dengan warga sekitar. Pengemis di Kampung Lio, contohnya, biasa menitipkan sebagian pendapatan kepada ”induk semang”, yang juga pemilik atau pengawas lapak atau kamar yang mereka tempati.

”Rata-rata mereka setor Rp 50.000 sehari,” kata Nashori (53), induk semang yang pernah mengasuh 20 pengemis tahun 2007.

Uang titipan dikelola Nashori sebagai modal usaha rongsokan. Inem, induk semang lain, memutar dana titipan itu untuk dagang gorengan. Imbalannya, mereka harus membebaskan pengemis saat tertangkap.

Dengan sistem itu, pengemis terus menyerbu Jakarta. Mereka mengemis karena miskin. Sebagian lagi betah karena menguntungkan.

Menurut Ketua Forum Warga Kota Jakarta Azas Tigor Nainggolan, adanya pengemis sebagai profesi merupakan wujud kegagalan pemerintah mengatasi kemiskinan dan membuka lapangan kerja.


source: http://ramadhan.kompas.com/read/2010/09/06/09393154/Dari.Baju.Dinas.sampai.Sewa.Bayi-8